.::Saung Inawan Raos Kanggo Gegelehean::.

Reviews

Category:Other
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia saat ini telah mengembangkan produksi surfaktan dari sumber nabati, yaitu kelapa sawit. Surfaktan adalah zat aktif yang berperan sebagai pengemulasi minyak dan air, yang selama ini bersumber dari bahan baku minyak bumi.

"Sebagai negara net-importir minyak bumi, Indonesia berpotensi menggantikan petrokimia dengan kelapa sawit. Ini dimungkinkan mengingat Indonesia saat ini sebagai penghasil sawit terbesar di dunia. Produksinya akan mencapai 12,5 juta ton per tahun pada tahun 2010," kata Wuryaningsih SR, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Wuryaningsih, surfaktan adalah produksi turunan dari lemak alkohol. Adapun lemak alkohol itu sendiri merupakan satu di antara 10 produk hilir industri kelapa sawit.

Sedikitnya ada 13 jenis surfaktan yang dapat dihasilkan dari minyak kelapa sawit. Proses produksinya dapat dibuat oleh peneliti LIPI yang telah memiliki paten proses pembuatan surfaktan ini. Bila ada industri yang berminat mengembangkan industri surfaktan, kata Wuryaningsih, LIPI siap membantu karena teknologi pembuatannya telah dikuasai.

Dari berbagai jenis surfaktan itu, lebih lanjut dapat dihasilkan beraneka produk komersial. Sebutlah seperti bahan baku pembersih berupa detergen dan pelembut pakaian; kosmetika yang meliputi sabun, sampo, perawatan kulit, hingga pasta gigi.

"Dari surfaktan juga dapat dihasilkan bahan pewarna tekstil, pelumas, bahan baku farmasi untuk obat dan pembuatan vaksin, serta aditif bagi bahan bakar minyak," kara Wuryaningsih.

Produksi surfaktan dari kelapa sawit sangat cerah di Indonesia. Sebab, bila dibandingkan dengan harga CPO (crude palm oil), surfaktan memiliki harga jual 20 kali lipat lebih tinggi. Nilai tambahnya pun bisa meningkat delapan kali lipat, atau tertinggi dibandingkan produk turunan lain, seperti minyak goreng yang hanya naik setengah kali. Saat ini, dari 95.000 ton kebutuhan surfaktan Indonesia per tahun, sekitar 45.000 ton masih diimpor. (YUN)

Sumber : Kompas (11 September 2006)

Category:Other
Krisis baja yang sedang kita "nikmati" bakal bertahan lama. Pasalnya, China masih terus menyedot bahan baku baja dunia untuk keperluan pembangunan industri dalam negeri dan industri otomotifnya dengan total konsumsi 350 juta ton per tahun atau sekitar sepertiga dari total konsumsi baja di dunia. Indonesia, yang hanya mengkonsumsi 6 juta ton per tahunnya, harus menghadapi kenyataan ini, bersaing mendapatkan "jatah" pellet dan skrap impor dari negara-negara yang "berbaik hati".

Indonesia yang masih tidak mampu dan tidak mau mengolah tambang-tambang bijih besinya yang berjumlah milyaran ton, harus mengikhlaskan tambang-tambang tersebut dikuasai oleh eksportir asing dari China dan lain-lainnya dengan iming-iming harga yang menggiurkan kepada penguasa di daerah-daerah.

Dilain pihak, Uni Eropa telah menetapkan pelarangan impor mobil di tahun 2015 pada industri yang tidak menerapkan sistem daur ulang pada keseluruhan proses produksinya. Hal itu dilakukan untuk membendung masuknya kendaraan bermotor dari negara pesaingnya (Jepang, China, Amerika, dan lain-lain).

Kebijakan strategis ini akan segera diikuti oleh Jepang dalam memenangkan persaingan global. Oleh karenanya, Jepang mau tidak mau harus melakukan daur ulang skrap baja (baja bekas) dari industri otomotifnya dan diprediksi di tahun 2050 Jepang sudah dapat melakukan daur ulang sempurna skrap bajanya sehingga tidak memerlukan bahan baku baja lagi. Pengembangan teknologi pemurnian skrap baja akan segera mendapat prioritas utama dalam menyongsong persaingan global di dunia.

Lain halnya dengan Indonesia, kondisi industri berbasis baja dan besi cor semakin menyedihkan. Pasokan bahan baku baja yang menipis dan tingginya harga telah menghancurkan ratusan industri kecil pengecoran di Ceper dan sekitarnya. Bahan baku skrap besi dan baja yang jumlahnya lumayan banyak, tidak bisa digunakan begitu saja karena kandungan pengotor yang ada di dalamnya. Pengotor ini akan menurunkan kualitas produk akhir. Sementara itu, teknologi pemurnian juga masih belum dikembangkan. Jika teknologi ini dapat dikuasi, permasalahan yang dihadapi industri pengecoran dapat diselesaikan. Teknologi ini juga dapat diaplikasikan untuk membersihkan unsur-unsur yang tidak diinginkan pada proses pengolahan baja dari bijih besi lokal. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat memecahkan permasalahan pemurnian skrap baja di dunia.

Teknologi daur ulang skrap besi/baja

Skrap besi/baja umumnya telah tercampur dengan logam lain saat proses daur ulang karena sulit dipisahkan. Ditambah lagi, banyaknya penggunakan pelapisan pada baja oleh Cr, Ni, Zn, Al, dan lain-lain untuk memenuhi suatu fungsi tertentu; seperti ketahanan korosi, keindahan, dan lain sebaginya. Penambahan Pb dilakukan untuk memperbaiki sifat permesinannya. Pada baja yang diperkuat, sering ditambahkan unsur-unsur lain seperti Ti, Cr, Ni, Co, V, dan W. Sementara itu, teknologi pengeliminasi unsur-unsur pengotor ini masih belum banyak diketahui, sehingga baja atau besi cor yang dihasilkan kurang memenuhi standar yang diharapkan. Misalnya keberadaaan Al dan Zn yang tidak terkontrol dapat menimbulkan pin hole yang sangat merusak hasil cor. Keberadaan Cu akan mengakibatkan hasil cor pecah atau menimbulkan crack pada permukaan baja yang mengalami perlakuan panas karena perbedaan titik leleh Cu dengan baja.

Pengeliminasian unsur-unsur pengotor dengan metoda bubbling (meniupkan udara dalam cairan logam) telah lama diketahui. Dengan bubbling udara atau O2, unsur-unsur yang memiliki kemampuan oksidasi diatas FeO seperti Si, Mn, B, Al lebih mudah dihilangkan daripada unsur-unsur yang memiliki kemampuan oksidasi di bawahnya seperti Pb, Cu, Ni, dan Co.

Pemurnian Zn, unsur Zn mudah hilang dengan penguapan, sedangkan Al dapat dipisahkan dengan efektif melalui oksidasi dengan O2. Pengoptimalan bubbling akan meningkatkan kecepatan pembersihan Zn, dan pengecilan gelembung-gelembung udara bubbling akan mempercepat proses oksidasi pada pembersihan Al. Namun demikian, di samping waktu prosesnya yang lama, metoda ini hanya dapat mengeliminasi unsur-unsur tertentu saja tergantung sifat reaksi dan berat jenis masing-masing unsur.

Metoda lain yang dikembangkan yaitu dengan compound separation (pemisahan pengotor dengan membuat paduan yang berbeda berat jenis). Perusahaan Kobe Steel Jepang telah mencoba mengeliminasi Pb dari kuningan dengan menambahkan Ca dan penyaringan, sedang cara teknisnya telah dipatenkan di Japan Paten. Namun demikian, pengeliminasian Pb tersebut kurang efektif karena keberadaan pengotor Pb yang berukuran kecil dan menyebar di dalam cairan.

Kelompok peneletian penulis telah berhasil mengoptimalkan pengeliminasian Pb dari paduan tembaga dengan menambahkan aggregation agents (pengikat unsur pengotor) Ca-Si dan NaF. Sedangkan mekanisme pengeliminasian Pb dari paduan tembaga tersebut telah ditemukan secara sederhana seperti ditunjukkan pada Gambar 1 dengan mendasarkan pada energi Gibb's. Teknik tersebut telah dipatenkan di Japan Paten dan sedang diuji dalam sekala industri. Prinsip dasar proses eliminasi pengotor pada paduan tembaga tidak berbeda dengan pada baja. Untuk itu, proses yang telah dikembangkan pada paduan tembaga diyakinkan dapat diterapkan juga pada baja.

Pada baja, unsur-unsur pengotor tertentu dapat dieliminasi dengan mudah dengan penambahan SiO2 dan CaO. Namun, mekanisme pengeliminasiannya masih belum banyak diketahui. Ditambah lagi unsur-unsur pengotor seperti Co, Ni, Cu, Sn dan Pb masih belum bisa dieliminasi dan menjadi masalah utama pada proses pengecoran baja dan besi cor. Jika dapat ditemukan dan dihitung energi Gibb's reaksi masing-masing unsur pengotor dengan aggregation agents-nya, maka mekanisme pengeliminasian unsur-unsur pengotor dapat disimulasikan.

Aplikasi teknologi daur ulang baja Permasalahan utama pengolahan bijih besi lokal ialah kandungan pengotor seperti Ti dan V pada pasir besi yang berjumlah 170 juta ton, berada di sepanjang pantai pulau Jawa. Ti dapat mengendap dan menempel di dinding tungku terlebih dahulu saat proses reduksi, sehingga mengganggu proses pengecoran dan memperburuk aliran cairan besi. Sementara itu, bijih besi laterit yang berjumlah sekitar 1 milyar banyak mengandung Ni dan Co. Keberadaan Ni, Co dan Cr pada baja dapat meningkatkan kekerasannya. Namun, keberadaannya dengan kadar berlebih dapat menyebabkan kesulitan untuk membuat produk baja yang berbentuk lempengan. Dengan kombinasi metoda bubbling dan compound separation, diyakinkan bahwa unsur-unsur pengotor tersebut dapat dimurnikan. Pilihan aggregation agents yang tepat dari mineral alam yang ada di Indonesia menjadi kunci solusi pengolahan bijih besi mandiri dari bahan baku lokal. Pengolahan bijih besi mandiri akan dapat menyajikan pasokan bahan baku baja untuk industri nasional selama lebih dari 100 tahun.

Menyelamatkan industri baja nasional

Menyongsong negara berbasis industri, Indonesia harus memiliki pasokan bahan baku baja mandiri. Indonesia tidak boleh tergantung kepada negara lain yang labil karena diperebutkan oleh negara-negara yang lebih maju dengan konsumsi yang jauh lebih besar. Harga bahan baku baja akan mudah disetir dan sangat merugikan. Program penyelamatan industri baja nasional melalui pengolahan bijih besi mandiri harus segera digulirkan kalau tidak ingin menemui kebangkrutan. Untuk mewujudkan program tersebut, berikut akan diuraikan peran masing-masing elemen yang terkait.

Pemerintah. Pemerintah harus dapat membuat kebijakan yang mengatur dan mengontrol terlaksananya program pengolahan bijih besi mandiri. Dana-dana harus diprioritaskan untuk tujuan tersebut di samping harus selalu mendorong elemen lain untuk bekerja keras mensukseskan program tersebut. Nilai ekonomi pasokan baja nasional (5-6 juta ton) melebihi 30 trilyun pertahun dan akan semakin meningkat seiring dengan kemajuan industri. Sementara itu, dana yang berkaitan dengan riset untuk pengembangan teknologi pengolahan bijih besi mandiri sangat sedikit bahkan cenderung tidak ada. Para peneliti di pusat-pusat penelitian harus bersaing untuk mendapatkan dana riset yang tersedia untuk pengembangan teknologi pengolahan bijih besi lokal karena tidak adanya prioritas yang mendukung program tersebut.

Lembaga penelitian. Sebagian besar lembaga penelitian yang mengembangkan riset di bidang pengolahan bijih besi sendiri-sendiri dan kurang melakukan koordinasi dengan lembaga lain atau dengan industri terkait. Walhasil, teknologi yang dikembangkan tidak bersifat integrated (menyeluruh) dan hasilnya masih belum bisa diterapkan ke industri terkait. Tidak terfokus dan terpusatnya program dan lokasi pengolahan bijih besi, semakin menjauhkan dari tujuan dan harapan yang diinginkan. Oleh karenanya, lembaga-lembaga yang memiliki fasilitas dan SDM serta fungsi yang berkaitan dengan perbajaan harus bersama-sama dan bekerja sama memprioritaskan riset dan dananya untuk tujuan membuat riset terpadu guna membangun pengolahan bijih besi mandiri.

Peneliti. Peneliti merupakan elemen kunci bagi pengembangan teknologi pengolahan bijih besi. Bahan baku lokal, seperti laterit dan pasir besi yang memiliki sifat-sifat unik (banyak pengotor Ti, V, Ni, Co, dan lain-lain) perlu diolah dengan teknologi tertentu. Para peneliti terkadang masih bersifat individual, dalam artian kurang bisa bekerja sama dengan peneliti di lembaga lain. Padahal teknologi yang telah dikuasainya masih harus digabung atau diintegrasikan dengan teknologi lain agar dapat menghasilkan sesuatu yang diinginkan. Keterbatasan dana penelitian juga masih menjadi faktor dominan para peneliti untuk tidak kreatif berkarya. Selain itu arahan masing-masing lembaga kepada para peneliti harus sering diberikan.

Industri. Industri adalah pelaku utama yang menjembatani temuan-temuan teknologi para peneliti kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Atau dengan kata lain, industri berperan mengubah engineering frontier (teknologi yang tersedia di laboratotium) menjadi economic knowledge (teknologi bernilai ekonomi) dalam bentuk produk. Untuk membuat produk, industri akan menyedot tenaga kerja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Jadi, industrilah yang berperan langsung meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun, ketika produk tidak berkualitas atau tidak memenuhi standar di pasar, maka industri akan menerima kerugian. Untuk dapat memenangkan persaingan, industri harus selalu menjaga kualitas produknya dengan selalu meningkatkan R&D dengan menjalin kerja sama dengan peneliti di lembaga penelitian.

Sebagian besar industri nasional dalam sektor riil berkaitan erat dengan perbajaan. Hampir seluruh peralatan produksi dan transportasi didominasi dengan baja. Tersendatnya pengadaan peralatan industri karena krisis baja dan harga yang mahal akan menurunkan kinerja proses produksi. Industri-industri yang berkaitan langsung dengan perbajaan, misalnya industri pengecoran, otomotif, peralatan pertanian, dan lain-lain harus mau berhimpun dan ikut berperan serta mendukung program pengolahan bijih besi mandiri. Di samping menjalin mitra kerjasama dengan sesama industri, mereka juga harus mau menjadi mitra lembaga penelitian dalam pengembangan riset baja melalui pemberian informasi permasalahan teknologi yang sedang dihadapi. Industri juga diharapkan siap membantu memasarkan hasil riset peneliti yang menunjang peningkatan kualitas produksinya.

Oleh karenanya penguasaan teknologi pemurnian skrap baja harus dibarengi dengan sebuah tim pemerintah-lembaga penelitian-industri yang solid untuk bisa menyelamatkan perekonomian bangsa ini. Semoga !

Gambar :

Mekanisme pengeliminasian pengotor dari skrap cair dengan kombinasi metoda bubbling dan compound separation.
Penulis : Nurul Taufiqu Rochman
Sumber : Berita Iptek (21 Januari 2006)

ReviewReviewReviewNORMALISASI SUNGAI, TEKNOLOGI YANG KELIRUSep 14, '06 10:53 PM
for everyone
Category:Other
Permasalahan daerah aliran sungai (DAS) seringkali ditangani dengan penerapan teknologi yang salah misalnya untruk mengatasi banjir dilakukan "normalisasi" sungai seperti yang terjadi pada sungai Ciliwung dan Cisadane.

"Teknologi yang pernah dipakai di Eropa dan telah disadari keliru dan telah ditinggalkan, sayangnya masih dipakai di Indonesia," kata Kepala Puslit Limnologi LIPI, Dr Gadis Sri Haryani di sela Seminar Nasional Limnologi tentang Pengelolaan Sumber Daya Perairan Darat secara Terpadu di Indonesia, di Jakarta, Selasa (5/9).

Teknologi salah dalam memperlakukan sungai itu misalnya normalisasi berupa pelurusan, pengerasan dinding sungai, pembuatan tanggul dan pengerukan serta penghilangan tumbuhan, lumpur, pasir, dan batuan di kiri kanan sungai.

Diakuinya, normalisasi sungai telah dilakukan di masa lalu di dunia seperti di negara-negara seperti AS, Jerman, Belanda, Jepang dan lain-lain, namun belakangan diketahui dampak negatif perubahan itu terhadap ekologi sangat besar dan kini telah ditinggalkan.

Pengabaian daerah peralihan antara dua ekosistem atau lebih yang sering disebut sebagai daerah ekoton, misalnya daerah tepi sungai, karena dianggap tak bermanfaat, ujar Gadis, sangat disayangkan.

Pengabaian itu, ujarnya, menyebabkan hilangnya berbagai kemampuan dan potensi daerah tersebut termasuk kemampuan mengontrol aliran energi dan nutrien yang diperlukan biota yang hidup di sana.

"Hilangnya daerah ekoton akhirnya berdampak pada manusia sendiri karena terjadi banjir di hilir, erosi di dasar sungai yang menyebabkan longsor dan sedimentasi atau pendangkalan di hilir karena tererosinya material sepanjang sungai, serta terputusnya daur kehidupan pendukung ekosistem," katanya.

Ia mencontohkan sungai Kayamanya yang karena mengalami "normalisasi" dengan pembuatan dinding beton dan penghilangan batuan kecil dan tumbuhan di kiri-kanan sungai menyebabkan tempat berlindung anakan ikan sidat dari arus kuat dan tempat mencari makan hilang.

Melihat besarnya kerugian akibat hilangnya daerah ekoton, negara-negara maju mulai mengembalikan sungai dari pelurusan ke kondisi alamiahnya ke kelokan aslinya, mengisi sungai dengan batuan kecil seperti Sungai Danube di Austria dan sungai lainnya di Jerman, ujarnya.

Ia menambahkan, pelurusan beberapa sungai di Indonesia agar air deras dari hulu bisa langsung mengalir ke hilir menjadi sia-sia karena justru menyebabkan daerah bekas kelokan sungai yang telah menjadi pemukiman kebanjiran.

Tercatat, di Indonesia terdapat 13,7 juta hektar perairan darat meliputi sungai, danau, waduk hingga perairan lahan basah dan memiliki potensi sumber air bersih, sumber produksi pangan dan pakan, sumber energi air, dan sumber kenyamanan.

Diperkirakan ada 6.000 DAS besar dan kecil di Indonesia, 500 danau dengan total luas 491.724 hektar atau 0,25 persen dari luas daratan Indonesia, dan 22,16 juta hektar lahan basah dan rawa.

Sumber : RRI Online (5 September 2006)


ReviewReviewReviewCARA BERPIKIR SUKSESSep 14, '06 12:57 PM
for everyone
Category:Other
"Successful people think differently than unsuccessful people"

Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang sukses dan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah mereka yang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnya sehingga lebih baik.

Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikir
positif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah:

1.Big picture thinking bukan small thinking
Cara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar dan terfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas.

2.Focused thinking bukan scattered thinking
Sehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-loncatan besar dapat mereka raih.

3.Creative thinking bukan restrictive thinking
Proses berpikir kreatif ini meliputi: think-collect-create-correct- connect.

4.Realistic thinking bukan fantasy thinking
Memungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security, sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas.

5.Strategic thinking bukan random thinking
Sehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influence
other dapat dilakukan.

6.Possibility thinking bukan limited thinking
Mereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang
dihadapi.

7.Reflective thinking bukan impulsive thinking
Memungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confident decision making.

8.Innovative thinking bukan popular thinking
Menghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih
baik.

9.Shared thinking bukan solo thinking
Berbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih
baik.

10.Unselfish thinking bukan selfish thinking
Memungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain.

11.Bottom line thinking bukan wishful thinking
Berfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensi
pemikiran yang dimiliki.


Sumber : Dikutip dari milis PROFEC

ReviewReviewReviewHaruskah Impor Beras? Sep 14, '06 12:49 PM
for everyone
Category:Other
Republika Online Senin, 04 September 2006

Haruskah Impor Beras?
Oleh :
Khudori
Peminat masalah sosial-ekonomi pertanian

Tanpa perdebatan alot dan berkepanjangan seperti tahun
lalu, didahului dengan rapat koordinasi nasional,
pemerintah akhirnya memutuskan mengimpor beras
sebanyak 210 ribu ton. Alasannya, cadangan beras
pemerintah yang dikelola Perum Bulog, BUMN pengelola
cadangan beras nasional, masuk katagori kritis: hanya
532 ribu ton. Jumlah ini jauh di bawah cadangan beras
yang aman sebesar 1 juta ton. Menurut Direktur Utama
Perum Bulog Widjanarko Puspoyo, stok saat ini
merupakan titik terendah sepanjang sejarah. Padahal,
stok itu masih mungkin berkurang lagi akibat
permintaan dari daerah yang terkena bencana atau untuk
keperluan operasi pasar.

Di sisi lain, harga beras saat ini 12 persen lebih
tinggi ketimbang tiga bulan lalu. Apabila dibandingkan
dengan harga Agustus 2005, kenaikannya mencapai 58,23
persen. Lonjakkan harga beras masih mungkin terjadi
pada September-Oktober, ketika memasuki bulan puasa
yang disusul Idul Fitri. Bagi rezim politik di negara
mana pun, lebih-lebih di Indonesia, stok pangan yang
menipis dan harganya yang tinggi, merupakan ancaman
destabilitas politik. Argumennya, pangan, terutama
beras, pendorong utama inflasi. Inflasi menyebabkan
naiknya suku bunga yang menghancurkan sektor riil.
Segala hal dilakukan untuk memperkuat cadangan dan
menurunkan harga pangan, termasuk impor. Tak peduli
apakah cara itu menyengsarakan petani atau tidak.

Perlukah?
Pertanyaannya, untuk memperkuat cadangan pangan
tersebut perlukah impor beras? Pertanyaan ini perlu
dikemukakan karena, pertama, Departemen Pertanian
yakin Indonesia tidak perlu impor beras. Alasannya,
produksi beras 2006, menurut Angka Ramalan II (Aram
II) BPS, mencapai 54,7 juta ton gabah kering giling
(GKG) atau meningkat 600 ribu ton (1,11 persen)
dibandingkan angka produksi padi 2005. Dengan tingkat
produksi sebesar itu, setelah dikurangi kebutuhan
konsumsi, kita surplus 120 ribu ton beras. Bagi
Departemen Pertanian, yang perlu dilakukan adalah
menekan harga beras pada harga wajar. Impor tidak
perlu karena bersifat disinsentif kepada petani.

Kedua, pengalaman selama 2002-2005 menunjukkan, impor
beras bukan karena suplai beras domestik tidak
mencukupi kebutuhan. Misalnya, tahun 2004 dan 2005
kita surplus beras masing-masing 459 ribu ton dan 49
ribu ton, tetapi kita mengimpor 632 ribu ton pada 2004
dan 304 ribu ton pada 2005.

Anehnya, impor beras rentang 2002-2005 bisa 4-6 kali
lipat dari yang seharusnya. Contohnya, impor tahun
2002 yang selisih produksi dan konsumsi beras domestik
cuma 651.467 ton, tapi beras yang diimpor mencapai 3,7
juta ton atau 5,69 kali dari impor yang seharusnya
(Irawan, 2006). Ini menunjukkan, kebijakan impor
pemerintah selama ini menjadi justifikasi importir
untuk memasukkan beras impor sebanyak-banyaknya,
terutama lewat jalur ilegal.

Bagi Indonesia yang 95 persen penduduknya bergantung
pada beras, impor merupakan fenomena biasa, terutama
saat produksi beras domestik tidak mampu mencukupi
kebutuhan konsumsi. Masalahnya, data yang menjadi
acuan dasar perlu-tidaknya impor beras selalu
mengundang kontroversi. Jantung persoalannya ada
keraguan validitas data. Ada kecurigaan, data dimuati
vested interest. Sepanjang datanya benar dan
validitasnya bisa dipertanggung- jawabkan, sebetulnya
impor beras adalah hal lumrah.

Sejauh ini usul impor ditopang dua alasan. Pertama,
sejumlah daerah sentra produksi padi dilanda bencana
yang berujung pusonya padi. Kedua, menipisnya cadangan
beras nasional di Perum Bulog. Kukuhkah dua alasan
ini? Soal kekeringan, data luas kekeringan sampai 24
Juli 2006 baru mencapai 134.378 hektare dengan luas
puso 10.632 hektare. Luasan lahan yang kekeringan
berikut yang puso ini tidak cukup signifikan. Kita
pernah mengalami tiga kali kekeringan ekstrem, tahun
1994, 1997 dan 2003.

Menurut perkiraan Badan Meteorologi dan Geofisika
(BMG), sebagian besar Pulau Jawa pada Agustus-November
tahun 2006 sedikit lebih kering dibanding 2005.
Desember baru memasuki fase puncak musim hujan.
Kendati kondisi cuaca sedikit lebih kering pada musim
kemarau, menurut BMG, wilayah Indonesia tidak akan
mengalami bencana El Nino seperti tahun 1997, karena
derajat terjadinya El Nino sangat kecil. Artinya,
hingga puncak musim kemarau, September-Oktober, luas
sawah yang puso tidak signifikan. Jika prediksi ini
benar, dari sisi ini, batu pijak untuk mengimpor beras
runtuh.

Setiap usaha tani, termasuk padi, memiliki
ketergantungan yang tinggi terhadap cuaca dan iklim.
Ketergantungan tersebut menghasilkan irama tanam dan
panen yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Produksi
beras utama dihasilkan pada empat bulan panen raya
(Februari-Mei) , yang mencapai 60-65 persen dari total
produksi nasional. Produksi berikutnya dihasilkan pada
musim panen gadu pertama (Juni-September) dengan
produksi 25-30 persen. Sisanya dihasilkan pada musim
panen Oktober-Januari. Masalahnya, penyerapan beras
oleh Perum Bulog jauh dari memadai.

Jadi, rendahnya penyerapan beras oleh Perum Bulog
inilah sebenarnya pangkal rendahnya cadangan beras
nasional, bukan karena produksi domestik tidak
mencukupi. Karena itu, impor beras yang bagi Perum
Bulog merupakan keniscayaan, sebenarnya punya
kelemahan mendasar. Pemerintah memang tidak bisa
terlalu berharap kepada Perum Bulog untuk menyerap
beras petani. Sejak berubah jadi Perum atas tekanan
IMF, Mei 2003, berbagai privilege Bulog runtuh satu
per satu. Bulog kini berwajah ganda: sebagai perbisnis
yang harus profit juga pengemban tugas pelayanan
publik (PSO) yang berpotensi merugi.

Dari sisi bisnis, adalah pilihan yang rugi apabila
Perum Bulog membeli gabah dan beras petani di atas
HPP: Rp 1.730 per kilogram (kg) gabah kering panen
(GKP) dan Rp 3.550 per kg beras. Serta-merta solusi
impor dianggap paling layak secara bisnis. Padahal,
impor memiliki mata rantai negatif yang panjang:
larinya devisa, disinsentif terhadap petani,
mubazirnya sumberdaya domestik dan yang lain.
Sebetulnya, masalah ini bisa selesai apabila Perum
Bulog menyerap beras sesuai target dengan harga berapa
pun. Tapi karena dituntut untung, Perum Bulog lebih
mengedepankan aspek bisnis.

ReviewReviewReviewAjakan Berpartisipasi dalam Aksi Peduli KisundaSep 14, '06 12:06 PM
for everyone
Category:Other
Kepada Yth.
Semua Rekan-rekan Neter
di mana saja berada

Salam hangat,

Sebelumnya perkenankan kami dari kegiatan Aksi Peduli Kisunda yang dimotori oleh Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya (HIMALAYA) dan didukung oleh beberapa organisasi/komunitas dan yayasan-yayasan kasundaan sebagaimana dalam proposal. Sampai saat ini donasi untuk bantuan korban bencana gempa dan tsunami melalui kegiatan aksi tersebut telah berhasil mengumpulkan sumbangan uang tunai sebesar Rp. 43.813.000,. (empat puluh tiga juta delapan ratus tiga belas ribu rupiah).

Bantuan tersebut telah disalurkan ke lokasi korban bencana pada tanggal 5-6 Agustus 2006 sekaligus survey untuk kegiatan selanutnya. Prioritas penyaluran sumbangan tersebut adalah lokasi-lokasi yang selama ini kurang mendapat perhatian publik, yaitu : desa-desa di Kec. Cikalong dan Cipatujah, Kab. Tasikmalaya dan Cimerak, Kab. Ciamis.

Selain bantuan langsung, kami juga berencana melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami untuk masyarakat dan di lokasi bencana Adapun tujuan umum kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang benar dan utuh mengenai gempa dan tsunami serta membangun kemandirian masyarakat dalam mengindari korban akibat bencana gempa bumi dan tsunami sampai seminimal mungkin di masa depan. Uraian lengkap kegiatan dalam proposal dengan kebutuhan dana penyelenggaraan total sebesar Rp 59.035.000,- (lima puluh sembilan juta tiga puluh lima ribu rupiah).

Sehubungan dengan hal di atas, maka kami dari panitia kegiatan ini bermaksud mengajak Bapak/Ibu/Saudara/i untuk ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dalam bentuk bantuan pendanaan. Terlampir proposal kegiatan dimaksud.

Demikian surat permohonan donasi ini kami sampaikan. Besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara/i bersedia turut serta berpartisipasi dalam kegiatan ini. Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu/Saudara/i , kami ucapkan terima kasih.


Ttd,

Panitia Kegiatan AKSI PEDULI KISUNDA


NB:
Proposal bisa diminta di Runa Inawan (inawan@gmail.com) atau Oman Abdurahman (omanarah@gmail.com)
Rekening Panitia : Bank BNI Cabang Unpad Bandung No. Rek. 0106461951 atas nama Susan Pirnalisi/Sosial

CP :
1. Runa Inawan >> YM : runainawan - 0818109410
2. Oman Abdurahman >> YM : o_arahman - 081320691773
3. Susan Pirnalisi : >> YM : susanvira - 08156095489




ReviewReviewReviewDiributkan Setelah Dipatenkan Negara Lain Sep 14, '06 11:36 AM
for everyone
Category:Other
Diributkan Setelah Dipatenkan Negara Lain

Jakarta, Kompas - Negara-negara berkembang sering kali baru menyadari kekayaan sumber genetik (genetic resources) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang dimilikinya setelah dipatenkan oleh negara lain. Itu terjadi karena negara berkembang kurang melakukan survei dan inventarisasi atas kekayaan tersebut.
Menurut Achmad Zen Umar Purba, guru besar ilmu hukum internasional pada Universitas Indonesia, di Indonesia isu kekayaan sumber genetik dan pengetahuan tradisional belum merasuk ke kalangan resmi, padahal Indonesia telah meratifikasi Konvensi Keragaman Hayati. Perhatian Pemerintah Indonesia terhadap kekayaan sumber genetik dan pengetahuan tradisional belum tercermin sebagai kemauan politik (political will) dalam strategi pembangunan nasional.
”Sumber genetik dan pengetahuan intelektual merupakan bagian dari kekayaan bangsa ini yang melimpah. Akan tetapi, sering kali kita tidak tahu kekayaan itu dipatenkan oleh negara lain,” ungkap Zen, Rabu (12/10). Zen dikukuhkan sebagai guru besar pada 7 September 2005 dengan pidato berjudul Peranan Sumber Daya dan Investasi Asing dalam Perkembangan Hukum Internasional Kontemporer.
Zen menyebutkan, tahun 2002 Indonesia pernah meributkan paten atas bahan-bahan rempah jamu tradisional Indonesia oleh perusahaan Shiseido, Jepang. Setelah diramaikan oleh lembaga swadaya masyarakat, 11 registrasi paten tersebut akhirnya dibatalkan. Hal serupa terjadi ketika Amerika Serikat (AS) mempatenkan beras basmati dan tanaman turmeric, dan kemudian dibatalkan karena protes dari India. Beras jasmine Thailand dipatenkan di AS, tanaman ploinoi dipatenkan di Jepang, dan nata de coco Filipina dipatenkan di AS.
Di samping melanjutkan langkah-langkah hukum yang telah ada, menurut Zen, juga perlu melakukan survei dan penelitian intensif, inventarisasi, dan publikasi potensi kekayaan tersebut secara nasional. (LAM)

Kompas, Kamis, 13 Oktober 2005

ReviewReviewReviewReviewSinyal Darurat Beras, Apa Solusinya?Sep 14, '06 10:56 AM
for everyone
Category:Other
Sumber : Kompas, 7 September 2006

Pada akhir September yang akan datang, Indonesia kembali akan mengimpor beras sejumlah 210.000 ton. Meski beberapa pihak menyatakan jumlah tersebut kecil, tak diragukan lagi, impor adalah tindakan yang menistakan petani dan menghancurkan dunia pertanian jika stok beras sesungguhnya masih berada di level aman.
Karena itu, tulisan ini tidak akan menyoroti persoalan impor beras ketika diasumsikan stok beras masih cukup. Jauh lebih penting mesti dinilai pula tepatkah strategi impor tersebut ketika stok beras memang kurang.
Di masa depan, asumsi bahwa Indonesia akan selalu kekurangan beras lebih realistis dibandingkan dengan asumsi kebalikannya. Asumsi ini ditetapkan dengan mempertimbangkan empat hal.
Pertama, impor beras sesungguhnya bukan pekerjaan baru bagi Indonesia. Sejak empat dasawarsa yang lalu Indonesia melakukannya hampir setiap tahun. Namun, hanya dua kali (tahun 1984 dan 2004) swasembada bisa diraih.
Kedua, dalam sepuluh tahun terakhir tidak terdapat peningkatan luas panen padi yang signifikan. Besar kemungkinan kecenderungan ini terus berlanjut karena usaha perluasan selalu menghadapi persoalan pelik. Secara umum, padi akan bagus hasilnya jika ditanam di Pulau Jawa dan Bali. Rata-rata produksi padi di dua pulau ini paling tinggi dibandingkan dengan pulau lain, mencapai lebih dari 5 ton per hektar. Sementara rata-rata produksi di pulau lain 2-5 ton per hektar (Badan Pusat Statistik, 2005). Namun, ekspansi areal persawahan di Pulau Jawa dan Bali harus berkompetisi dengan kepentingan lain, seperti perumahan dan industri. Dalam kompetisi ini, kepentingan penggunaan lahan untuk sawah hampir pasti tersisih, terutama karena pertimbangan untung-rugi. Maka, yang terjadi bukanlah ekspansi, melainkan alih fungsi lahan sawah ke nonsawah.
Adapun di luar Jawa, usaha untuk mengembangkan areal tanam padi telah dilakukan sejak lebih dari tiga puluh tahun lalu, mulai dari proyek rice estate di Palembang hingga proyek lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan. Sebagaimana diketahui, semua usaha tersebut gagal total. Ini menunjukkan betapa muskilnya mengembangkan areal sawah baru di luar Pulau Jawa.
Ketiga, pertumbuhan produktivitas padi cukup rendah, kurang dari 2 persen per tahun dalam 15 tahun terakhir (International Rice Research Institute, 2005). Meski hampir semua teknologi yang ada di dunia sudah diterapkan dan diadopsi oleh Indonesia, yang membuat usaha tani padi di Indonesia menjadi terefisien di Asia Tenggara dan lebih produktif dibandingkan dengan produksi rata-rata Asia bukan pekerjaan mudah untuk meningkatkan produktivitas padi ini. Apalagi jika mengingat efisiensi lahan sawah, terutama di Jawa, sudah mendekati jenuh dan keletihan (soil fatique).
Keempat, sulit diharapkan adanya terobosan teknologi yang manjur, seperti Revolusi Hijau, dalam waktu dekat. Padi hibrida yang direncanakan menjadi andalan untuk menggenjot produksi juga masih penuh kontroversi. Butuh waktu lama untuk mengetahui apakah padi hibrida ini dapat memenuhi seluruh persyaratan teknis dan ekonomis agar bisa ditanam di Indonesia.
Dengan pertumbuhan penduduk mencapai 2,7 juta jiwa per tahun, jika diasumsikan konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia di masa akan datang sama dengan konsumsi per kapita tahun 2004 sebesar 136 kg, Indonesia akan membutuhkan tambahan pasokan beras 360.000 ton setiap tahunnya. Dengan demikian, sebagai contoh, pada tahun 2010 Indonesia akan membutuhkan suplai beras 1,4 juta ton lebih banyak dari kebutuhan saat ini. Dengan asumsi pertumbuhan produktivitas padi 2 persen per tahun dan faktor lainnya tetap, pada tahun itu hanya dihasilkan tambahan produksi 800.000 ton lebih besar dari saat ini. Jadi, pada tahun itu kita akan kekurangan beras sekitar 600.000 ton.
Persoalannya, jika di masa depan kita akan selalu kekurangan beras, bersediakah kita menjadikan impor sebagai satu-satunya solusi?
Pilihan tak layak
Ditinjau dari sudut pandang apa pun, impor beras adalah pilihan yang tak layak. Mengimpor beras dalam jangka waktu lama sudah pasti mengancam ketahanan nasional. Selain memboroskan devisa dan membebani anggaran negara, impor beras yang merupakan barang konsumsi juga tidak menghasilkan efek positif terhadap perekonomian, misalnya dalam menciptakan lapangan kerja baru.
Impor beras juga membuat petani khawatir akan menanggung penurunan harga beras produksi dalam negeri. Tak kurang meruginya, impor beras berpotensi memunculkan kembali gonjang-ganjing politik sebagaimana telah terjadi beberapa waktu lalu (kasus angket beras DPR).
Jika impor merupakan pilihan tak layak, dan ketika peningkatan produksi beras tak bisa diharapkan lagi, satu-satunya cara untuk keluar dari "krisis beras" ialah melakukan substitusi. Persoalannya, adakah komoditas lokal yang dapat menggantikan peran beras sebagai bahan pangan utama sumber karbohidrat?
Kita dapat belajar dari pengalaman Jepang untuk menjawab pertanyaan ini. Tahun 1960-an, konsumsi beras per kapita rakyat Jepang dan Indonesia hampir sama besarnya, yaitu sekitar 130 kg. Namun, saat ini konsumsi Jepang menurun hingga setengahnya, sedangkan Indonesia masih tetap. Sebagai pengganti sebagian konsumsi beras itu, rakyat Jepang memanfaatkan potensi tanaman pangan lain, terutama umbi-umbian, seperti ubi jalar dan talas. Komoditas yang dipilih untuk menggantikan beras disesuaikan dengan daerah masing-masing. Misalnya di Kagoshima yang cocok untuk budidaya ubi jalar, pemerintah mendorong pemanfaatan ubi jalar melalui banyak cara. Karena dukungan penuh pemerintah, Kagoshima sekarang dikenal dengan julukan Kerajaan Ubi Jalar karena penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan ubi jalar telah sedemikian meluas di sana. Berkembang pula banyak industri pengolahan ubi jalar, seperti industri tepung, pasta, dan makanan ringan.
Di negeri kita, kesadaran untuk memanfaatkan komoditas pangan lokal sebagai bahan pangan utama sumber karbohidrat sesungguhnya pernah membudaya. Dahulu kita mengenal Madura dengan jagungnya, atau Maluku dan Papua dengan sagunya. Namun, kekhasan ini mulai memudar terutama sejak beras dijadikan komoditas politik, sejak beras dicitrakan sebagai satu-satunya makanan terlayak bagi rakyat Indonesia., dan sejak bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke telah menjadikan beras sebagai konsumsi sehari-hari.
Ketika beras menjadi anak emas, citra komoditas pangan lokal lain sebagai komoditas kelas dua semakin menguat. Sekarang kesan ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi dan tidak mampu membeli beras, dengan alasan harga yang lebih murah beralih ke komoditas pangan lain seperti ubi kayu. Fenomena demikian menyebabkan banyak orang mengambil kesimpulan keliru bahwa karena harga komoditas itu lebih murah, kualitas (nutrisi)-nya pun lebih rendah dibandingkan dengan beras.
Pangan lokal
Meski hambatan-hambatan itu nyata, mengembalikan ’kejayaan pangan lokal’ tidaklah sulit. Hanya diperlukan perhatian dan dukungan semestinya dari pemerintah. Sama dengan Pemerintah Jepang, dukungan itu dapat diberikan melalui banyak cara, mulai dari bantuan teknologi pascapanen, penyediaan bibit berkualitas, pengembangan teknologi pengolahan pangan, penyediaan infrastruktur gudang, penjaminan pasar, sampai promosi.
Potensi ketersediaan pangan lokal sangat melimpah. Misalnya umbi-umbian. Tidak seperti beras, umbi-umbian dapat tumbuh dengan baik di hampir seluruh wilayah di Indonesia, bahkan dapat ditanam di lantai hutan sebagai tanaman sela. Sebagai gambaran jika satu persen lantai hutan Indonesia ditanami ubi kayu berpotensi menghasilkan 20 juta ton ubi kayu segar atau setara 7 juta ton tepung ubi kayu. Biaya investasi untuk mengembangkan lahan sehingga siap ditanami umbi-umbian jauh lebih kecil dibandingkan dengan investasi pembukaan lahan untuk padi.
Agar dapat menggantikan beras, pengolahan umbi-umbian menjadi tepung adalah pilihan terbaik dengan beberapa alasan. Pertama, tepung adalah produk yang praktis dari sisi penggunaan. Dalam bentuk tepung, produk bisa langsung diproses sebagai makanan instan atau sebagai bahan baku produk pangan lain. Kedua, teknologi pengolahan tepung sangat mudah dikuasai dengan biaya murah. Karena itu, para pelaku usaha skala kecil-menengah juga dapat terlibat dalam mengembangkan usaha ini. Ketiga, tepung mudah difortifikasi dengan nutrisi yang diperlukan. Dan keempat, masyarakat telah terbiasa mengonsumsi makanan yang berasal dari tepung.
Baru-baru ini tim peneliti pangan dari sebuah universitas di Jawa Timur berhasil mengembangkan tepung ubi kayu dengan karakteristik tertentu yang memungkinkannya dapat menggantikan beras dan terigu. Tepung tesebut—yang harga pokok produksinya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pokok produksi terigu—telah digunakan untuk berbagai bahan makanan olahan, seperti roti, kue kering, kue basah, mi instan, dan mi basah.
Bisa dibayangkan, dari satu persen lantai hutan saja, kita dapat menghasilkan 7 juta ton tepung ubi kayu, suatu jumlah yang dapat menambal kekurangan beras secara signifikan sehingga kita tidak lagi harus mengimpor. Kita juga dapat mengganti penggunaan terigu, bahan pangan yang setiap tahun juga kita impor sekitar 4 juta ton. Belum lagi efek lain, seperti penciptaan banyak lapangan kerja baru di sektor budidaya—sektor ini umumnya padat karya, industri pengolahan dan pemasaran.
Hanya dengan memberi perhatian cukup ke pengembangan pangan lokal, kita dapat menuntaskan masalah impor beras.
Muslimin Nasution Ketua Majelis Wali Amanat Institut Pertanian Bogor

ReviewReviewReviewReviewKomunikasi KepemimpinanSep 14, '06 10:49 AM
for everyone
Category:Other
Mengapa harus percaya diri?
http://milis-bicara.blogspot.com/2006/08/tips-104-mengapa-harus-percaya-diri.html

Dengan lebih percaya diri berbicara, Anda akan lebih percaya diri
dalam segala aspek kehidupan Anda. Anda akan lebih percaya diri dalam
bekerja, dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam memimpin,
menjual dan berpresentasi, dalam mengambil keputusan, dalam
menentukan pilihan, dalam mengeksplorasi peluang, dalam
memanfaatkan kesempatan, dalam mengatasi masalah dan hambatan.

Apa artinya semua itu? Artinya, Anda akan lebih percaya diri dalam
menggapai cita-cita, dalam meraih impian, dalam memenuhi target dan
mencapai sasaran, dalam apapun yang Anda inginkan, dalam apapun yang
Anda kerjakan.

Fakta-fakta:

1. Dengan lebih percaya diri dalam berbicara, Anda akan lebih percaya
diri lagi dalam mencapai kesuksesan.
2. Dengan anggota tim yang lebih percaya diri dalam berbicara, tim
Anda akan lebih percaya diri dalam mencapai kesuksesan.
3. Dengan orang-orang di dalam perusahaan yang lebih percaya diri
dalam berbicara, perusahaan Anda akan makin mendekati kesuksesan!

Batch 1: Peserta puas 100%:
http://speaking.indodigest.com/Feedback_Form-Batch-1.doc

Batch 2: Peserta puas 100%
http://speaking.indodigest.com/Feedback_Form-Batch-2.doc

Tips #108: Komunikasi Kepemimpinan

Materi oleh:
Dr. John A. Kline
Profesor komunikasi pada University of New Mexico dan University of
Missouri Eksekutif Senior dan Provost Akademis pada kampus militer
Air University Pengajar "Concepts for Air Force Leadership"

Seperti yang dilakukan oleh orang lain, setiap tindakan, keputusan,
dan arahan yang diambil atau diberikan oleh seorang pemimpin, juga
dilakukan dengan berkomunikasi. Hanya saja, setiap pemimpin dituntut
untuk lebih efektif dan efisien dalam berkomunikasi, mengingat
krusialnya implikasi dari setiap tindakan, keputusan dan perilaku
seorang pemimpin.

Komunikasi kepemimpinan atau leadership communication, adalah sebuah
model komunikasi bagi para pemimpin, di mana bentuk komunikasi
disesuaikan dengan posisinya sebagai pemimpin. Ini berarti, ada
spesifikasi khusus dari elemen bahasa yang digunakannya.

Berikut ini adalah tips dari Dr. John A. Kline tentang bagaimana
meningkatkan efektifitas komunikasi seorang pemimpin.

MEMANCING UMPAN BALIK

Umpan balik adalah hal penting bagi seorang pemimpin. Dengan umpan
balik, seorang pemimpin akan mengambil keputusan dan menentukan
langkah selanjutnya. Jika Anda adalah pemimpin, tips berikut ini bisa
Anda terapkan untuk mendapatkan umpan balik yang efektif:

1. Katakan kepada bawahan, bahwa Anda menginginkan umpan balik.
Doronglah mereka untuk menyampaikan kabar baik maupun kabar buruk.
Pastikan bahwa Anda memberi semangat dan dorongan positif atas kabar
buruknya, dan bukan malah menghukum mereka.

2. Identifikasikan wilayah atau area, di mana Anda menginginkan umpan
balik. Komunikasikanlah minat Anda akan umpan balik, berkaitan dengan
isu atau wilayah tertentu yang bisa membantu organisasi mencapai
kondisi yang lebih baik.

3. Gunakan "kesunyian" untuk memancing umpan balik. Dengar dan
pancinglah umpan balik, dengan lebih banyak mendengar daripada
langsung memberi komentar terhadap isu yang diangkat oleh bawahan
Anda.

4. Perhatikanlah sinyal non verbal yang didemonstrasikan mereka.

5. Pertimbangkanlah untuk menjadwalkan sebuah 'meeting umpan balik'.
Ini lebih responsif dan terencana, bukan impulsif atau dadakan.

6. Gunakan pernyataan eksplisit untuk meminta umpan balik.

"Coba ceritakan lebih jauh."
"Itu menarik sekali."

Lontarkan pertanyaan yang tidak hanya dijawab 'ya' atau 'tidak'.
Gunakan pertanyaan 5W dan 1H.

MENDENGAR EFEKTIF

Berikut ini adalah tips untuk meningkatkan efektifitas 'pendengaran'
Anda.

1. Mendengar butuh persiapan, jadi bersiap-siaplah untuk mendengar.
Niatkan untuk mendengar. Persiapan untuk mendengar melibatkan mental
dan fisik. Singkirkan kertas, buku dan berbagai materi lain, saat
Anda akan mendengarkan bawahan Anda. Semua itu bisa mengganggu
'pendengaran' Anda. Beritahu sekretaris Anda untuk menahan telepon
yang masuk. Hindari berbagai interupsi yang tidak perlu. Bersiaplah
untuk mendengarkan kata pembuka dari bawahan Anda. Sisa dari
pernyataannya akan dibangun oleh kata pembuka yang diucapkan bawahan
Anda.

2. Dengarkan idenya, bukan hanya fakta-fakta yang disampaikan.
Berkonsentrasilah secara khusus, pada fakta-fakta yang sering membuat
Anda kehilangan ide utama. Berbagai fakta mungkin menarik bagi
bawahan Anda, akan tetapi alasan di belakang fakta itulah yang
seringkali membangun generalisasi di dalam pikiran mereka.

3. Tetaplah bersikap open-minded. Apa yang disampaikan atau cara
penyampaiannya bisa jadi membosankan Anda. Jika tidak berhati-hati,
Anda bisa terjerumus oleh sikap menghakimi, hanya mendengar sebagian
pesan, atau hanya mendengar apa yang ingin Anda dengar.

4. Pahami perbedaan kecepatan antara proses berbicara dan proses
mendengar. Kecepatan berpikir adalah sekian kali lipat lebih cepat
daripada berbicara. Artinya, Anda mendengarkan lebih cepat dari pada
bawahan Anda berbicara. Berhati-hatilah untuk tidak terjebak dalam
'menerawang' atau memikirkan hal lain pada saat mendengarkan bawahan
Anda.

5. Sesuai nasihat Edward De Bono, pakailah sepatu bawahan Anda.
Pahamilah sudut pandang mereka. Manfaatkan apa yang Anda ketahui
tentang pemahaman mereka dan tentang segala hal yang
melatarbelakanginya. Apa makna dari KOMBINASI kata-kata dan sinyal
non verbal mereka?

Tips ini juga berguna untuk meningkatkan efektifitas 'pendengaran'
Anda:

http://www.indodigest.com/indonesia-special-article-48.html

MENGURANGI MISKOMUNIKASI

1. Kendala #1: Arti kata.

Pertama, kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda bagi orang
yang berbeda.

"Lima menit" bisa berarti "segera", atau bisa berarti "300 detik".
Pastikan hal ini.

Kedua, kata yang berbeda bisa memiliki arti yang sama bagi orang yang
berbeda. Ada banyak hal yang Anda ketahui, punya nama sama. Nama yang
digunakan tergantung pada siapa yang sedang berbicara. Anda bisa
menamai rumah dengan 'kandang', pesawat tempur dengan 'capung', kapal
induk dengan 'paus', boss pemarah dengan 'orang gila' dan sebagainya.

Untuk tidak terjebak, pahamilah sebuah fakta: Pengertian tidak
terletak pada kata-kata, pengertian adanya pada manusia. Anda sebagai
pemimpin, akan berkomunikasi dengan lebih efektif jika bisa
menghubungkan pesan dengan pembawanya.

2. Kendala #2: Salah interpretasi atas tindakan.

Kontak mata, gerak tubuh, dan ekspresi wajah adalah tindakan. Saat
seseorang berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan ketika sedang
meeting, atau perilaku mengetuk-ngetukkan pensil ke atas meja, bisa
disimpulkan sebagai sikap terburu-buru atau rasa bosan. Kesimpulan
ini bisa benar dan bisa salah. Jika seseorang terlihat terbata-bata,
Anda mungkin akan menyimpulkan bahwa dia gugup, padahal belum tentu.

3. Kendala #3: Salah interpretasi atas simbol non tindakan

Pakaian yang Anda kenakan, kendaraan yang Anda pakai, benda-benda di
ruang kantor Anda, semuanya mengkomunikasikan segala hal tentang
Anda. Begitu pula, sikap hormat Anda atas waktu dan tempat yang
diperlukan oleh orang lain, apa yang melekat padanya atau apa yang
dikenakannya, mempengaruhi cara Anda menginterpretasi berbagai pesan
mereka. Termasuk, pilihan waktu yang diambil oleh bawahan Anda.
Misalnya, jika bawahan Anda melaporkan urusan dinas langsung ke rumah
Anda setelah jam kerja, maka hal ini bisa mempengaruhi cara Anda
memahami pesan yang dibawanya.

4. Kendala #4: Salah interpretasi suara.

Kualitas dan variasi suara, mempengaruhi pemahaman Anda. Kualitas
suara mengacu pada impresi terhadap orang lain. Anda sebagai pemimpin
yang mendengar, sering terpengaruh oleh suara bawahan Anda. Apakah ia
sedang senang, sedih, takut atau percaya diri. Pemahaman dan
pengertian, tergantung pada artikulasi, pengucapan dan akurasi tata
bahasa. Variasi suara, adalah bumbunya bicara. Ini berpengaruh pada
kemampuan Anda dalam memahami pesan bawahan.

BERKOMUNIKASI DENGAN PERSONIL KUNCI

1. Tunjukkan ketertarikan dan perhatian Anda yang asli, dengan
ekspresi wajah, cara menegakkan kepala, dan gerak tubuh, yang
merefleksikan keterbukaan dan dorongan positif untuk mereka.

2. Posisikan diri mereka senyaman mungkin di hadapan Anda. Ini bisa
dilakukan jika Anda mendemonstrasikan posisi rileks dan menunjukkan
rasa persahabatan.

3. Bersikaplah alamiah, sebab kemurnian dan ketulusan adalah fondasi
untuk komunikasi yang efektif.

4. Jangan tunjukkan sikap superior secara berlebihan, atau berpura-
pura menjadi seseorang yang bukan Anda.

5. Kembangkanlah komunikasi dengan komentar yang spontan, daripada
merencanakan komentar dan argumen.

6. Hargai cara pandang mereka.

7. Capailah pemahaman tentang apa yang sebenarnya mereka maksudkan,
tidak usah terlalu mengandalkan pada apa yang keluar dari mulutnya.

8. Kurangi sikap defensif Anda.

9. Jangan mendominasi pembicaraan, sehingga membuatnya hanya terdiam
dan terpaku...

10. Dengarlah apa yang mereka katakan, dan tidak usah terlalu
merencanakan apa yang akan Anda katakan.

MENCAPAI KONSENSUS KELOMPOK

1. Klarifikasikan diskusi. Yakinkan bahwa aktivitas kelompok yang
bersangkutan bisa dimengerti, teratur dan berfokus pada SATU isu pada
SATU waktu.Doronglah setiap anggota kelompok agar tetap fokus,
menghindari diskusi sempalan, dan mengklarifikasi isu dengan berbagai
pertanyaan.

2. Gunakan 'pernyataan proses'. Pernyataan proses berkaitan dengan
apa yang sedang terjadi pada kelompok yang bersangkutan.

"Apa yang Anda katakan cukup masuk akal. Bagaimana dengan Anda yang
lain?"
"Sejauh ini, kita menyepakati dua poin yang pertama. Mari kita
bergerak ke poin ketiga."
"Anda sudah mendengar dari Tuan Midun?"

Pernyataan proses akan sangat membantu dalam mencapai solusi dan
kepuasan bersama.

3. Carilah perbedaan pandangan. Doronglah setiap anggota kelompok
untuk menyampaikan cara pandangnya, dan memberi informasi atau bukti
yang mendukung cara pandang itu. Ini penting untuk pembelajaran dan
pencapaian solusi. Partisipasi akan membuat mereka merasa 'didengar'
sehingga akan meningkatkan rasa puas mereka.

4. Tetaplah bersikap terbuka untuk menerima cara pandang yang
berbeda. Waspadai gejala "merasa terbuka, akan tetapi tidak mau
terpengaruh".

5. Gunakan kata ganti yang mewakili kelompok. Kami, kita, kita semua,
Anda dan saya, tim, kelompok, perusahaan kita, organisasi ini, dan
sebagainya.

KESIMPULAN

Pemimpin yang efektif memahami pentingnya komunikasi yang baik.
Masalah dalam komunikasi dapat menyebabkan bottleneck di dalam
organisasi. Jika lain kali, Anda sebagai pemimpin diuji dengan
keinginan untuk menghukum dan menyalahkan bawahan, berhentilah, dan
cek kembali 'botol' Anda.

Yakinkan bahwa Anda mengecek lehernya, bukan pantatnya.

Sumber : millis Bicara : bicara@yahoogroups.com

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.