.::Saung Inawan Raos Kanggo Gegelehean::.

Blog EntryJATI DIRI DAN KRISIS BUDAYA Sep 14, '06 11:32 AM
for everyone

JATI DIRI DAN KRISIS BUDAYA
 
Oleh: Yuwono Sri Suwito
 
(Kepala Lembaga Javanologi Yogyakarta)
 
 
 
A. PENGANTAR
 
Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunya ruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi, atilar sulastuti, sarjana sujana kelu, kalulun Kalatidha, tidhem tandhanging dumai, hardayengrat dening karoban subeda. (Ranggawarsita - Serat Kalatidha: Pambuka).
 
 
 
Tembang di atas adalah bait pertama dalam serat Kalatidha gubahan pujangga pamungkas kraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawrsita di masa tuanya yang lebih popular dengan jaman edan karena pada bait ketujuh dalam serat Kalatidha itu diawali dengan kata-kata Amenangi jaman edan. Selengkapnya bait ketujuh dalam serat Kalatidha tersebut sebagai berikut:
 
 
 
Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, begja begjaning kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada.
 
 
 
Di dalam serat Kalatidha tergambarkan situasi krisis budaya pada saat itu baik krisis kepemimpinan, krisis keteladanan, etika, dan krisis budaya lainnya, seperti tercermin dalam terjemahan kedua bait tembang tersebut, sebagai berikut:
 
 
 
Bait 1.
 
Sekarang martabat negara, tampak telah sunyi sepi, sebab rusak pelaksanaan peraturannya, karena tanpa teladan, orang meninggalkan kesopanan, para cendekiawan dan para ahli terbawa, hanyut ikut arus dalam jaman kebimbangan, bagaikan kehilangan tanda-tanda kehidupannya, kesengsaraan dunia karena tergenang berbagai bencana.
 
 
 
Bait 7.
 
Mengalami jaman gila, serba sulit dalam pemikiran, ikut menggila tidak tahan, kalau tidak ikut melakukan (menggila), tidak akan mendapat bagian, akhirnya kelaparan, tetapi takdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lupa. Lebih bahagia orang yang sadar dan waspada.
 
 
 
Di masa tua Ranggawarsita (dalam pemerintahan Sunan Pakubuwana IX) krisis budaya seperti yang terlukis dalam serat Kalatidha tersebut terjadi. Meskipuntercantum ajaran moral yang begitu mulia dari Sang Pujangga, bahwa orang yang bersikap eling dan waspada masih lebih beruntung dibandingkan orang yang lupa (lali).
 
 
 
Krisis budaya seperti tersebut di atas dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Sebagai contoh krisis budaya yang lebih dulu dari jaman edan adalah peristiwa meletusnya Perang Suksesi Jawa III yang dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi (R.M. Sujono) adik Sunan Pakubuwana II yang dipicu oleh krisis budaya juga, yaitu budaya mèri (iri) hati, budaya ewuh-pekewuh, ingkar janji dan sebagainya. Sunan Pakubuwana II ingkar janji atas hadiah tanah Sukawati seluas 3000 cacah (rumah tangga = household) yang harus diberikan kepada Pangeran Mangkubumi atas keberhasilannya memadamkan pemberontakan Pangeran Martapura dan R.M. Sahid. Hadiah tersebut dicabut kembali oleh Sunan Pakubuwana II atas hasutan Patih Pringgalaya (patih Kasunanan Surakarta) yang merasa iri, mèri dan khawatir kedudukan Pangeran Mangkubumi semakin kuat. Hasutan Patih Pringgalaya ini disampaikan juga kepada Gubernur Jenderal van Imhoff untuk menekan Sunan Pakubuwana II agar membatalkan hadiah tanah Sukawati yang telah diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Atas desakan Gubernur Jenderal van Imhoff ini Sunan Pakubuwana II tidak dapat berkutik sekaligus tidak menepati Sabda Pandhita Ratu. Pangeran Mangkubumi yang sudah merasa kecewa atas ingkar janjinya Sunan Pakubuwana II ditambah dengan teguran Gubernur Jenderal van Imhoff kepada Pangeran Mangkubumi di perjamuan Kraton agar Pangeran Mangkubumi tidak ambisius meminta hadiah tanah Sukawati dan jangan menjadi orang serakah mengakibatkan kekecewaan berat dan tersinggungya Pangeran Mangkubumi. Beliau lolos dari keratin beserta keluarga dan pengikutnya untuk kemudian menuju Sukawati dan memulai perlawanannya kepada Belanda yang dibantu Sunan Pakubuwana II.
 
 
 
Contoh-contoh di atas merupakan gambaran tentang krisis budaya yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Saat ini yang terjadi tidak hanya krisis budaya, melainkan telah mencakup multi dimensi. Krisis dewasa ini mengancam kelestarian budaya, jatidiri dan integritas bangsa. Pertanyaan berikutnya adalah: masih dapatkah nilai-nilai budaya di dalam aplikasinya menanggulangi krisis budaya yang terjadi dan strategi apa yang harus ditempuh agar bangsa kita masih tergolong bangsa bangsa yang berbudaya dan tidak kehilangan jati dirinya?
 
 
 
B. Korelasi Jatidiri dan Budaya Lokal
 
Agar pembahasan berikutnya tidak terlalu divergen di sini dibatasi bahwa budaya lokal yang dimaksud adalah budaya Jawa. Hakekat jatidiri masyarakat Jawa tidak lain adalah Budaya Jawa itu sendiri yang mempunyai karakteristik antara lain sebagai berikut:
 
  Religius dan ber-Tuhan
 
Sebelum agama-agama besar masuk ke Jawa, masyarakat Jawa sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi mereka, dan keberagamaan itu semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Islam dan Kristen. Mempunyai toleransi keagamaan yang besar
 
Contoh nyata tercantum dalam Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular dengan kalimat yang terkenal …Jinatwan kalawan siwatatwa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Yang artinya: Pada hakekatnya yang paling dalam Buddha dan Syiwa adalah satu. Keduanya itu berbeda, tetapi itu satu, tidak ada dharma yang mendua. Sangat menekankan aspek kedukunan, hormat dan keselarasan sosial
 
Hal ini dimanifestasikan ke dalam teori Jawa seperti memayu hayuning bawana, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Contoh lain tentang bahasa Jawa yang mempunyai hirarki hingga delapan undakan (tingkatan) tidak dianggap diskriminatif, tetapi justru dianggap budaya adiluhung. Lebih suka memecahkan masalah kehiduan dengan sikap mawas diri atau tepa slira agar dapat menghindari konflik dengan pihak lain
 
Dengan cara mengalih, yakni menggabungkan rasio dan rasa akan menghasilkan bentuk pemecahan yang efektif dan efisien. Rumus yang dipakai adalah 4 N (neng - ning - nung - nang) neng = meneng; sebelum berbuat sesuatu harus memperhatikan perasaan yang tenang, terang dan diam ning = wening; hanya dengan meneng jiwa akan menjadi jernih (wening) nung = anung; dengan jiwa yangjernih akan dapat berpikir dengan baik nang = menang; akhir dari proses neng-ning-nung-nang adalah hasil pemecahan yang efektif dan efisien.
 
 
 
C. Krisis Budaya Jawa di Era Globalisasi
 
Sesuai dengan kodratnya kebudayaan tidaklah statis tetapi akan berkembang dan mengalami perubahan menyesuaikan dengan tata kehidupan manusia menurut jamannya. Jadi kebudayaan itu tidak dapat menutup diri dari pengaruh luar dan akan mengalami pergeseran kebudayaan yang disebut dengan pergeseran nilai-nilai budaya.
 
 
 
Yang sangat mengkawatirkan dewasa ini, terutama dalam era globalisasi, adalah terbukanya koridpr-koridor budaya lokal akibat pengaruh teknologi, transportasi dan komunikasi. Kelestarian budaya lokal lengkap dengan nilai-nilai luhurnya terancam, termasuk di dalamnya budaya Jawa. Dewasa ini tengah berlangsung revolusi 4 T (technology, telecommunication, transportation, tourism). Revolusi  dengan globalizing force yang sangat kuat sehingga batas-batas antar derah dan antar negara semakin kabur yang akan menuju ke suatu global village, suatu istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Mc Luhan dalam bukunya Exploration in Cummunication (1960).
 
 
 
Perlu diakui bahwa dalam perkembangan terakhir dari generasi ke generasi, buday Jawa mengalami erosi dalam arti pendukung budaya Jawa semakin menipis pengetahuannya tentang budaya Jawa. Dapat dikatakan orang Jawa sudah kehilangan jatidiri budayanya. Wong Jawa wis ora Jawa / wis ora nJawani, wong Jawa wis ilang Jawane. Kemerosotan atau degradasi budaya Jawa atau krisis budaya Jawa akan terjadi seiring dengan berita kehilangan dalam ungkapan kali ilang kedhunge diartikan sebagai pendangkalan makna hakikat hidup. Pasar ilang kumandhange, artinya yang semula pasar sebagai tempat jual beli antara produsen dan konsumen berubah menjadi pasar gelap barang-barang gelap. Wong wadon ilang wirange, artinya tindak asusila kaum wanita merajalela di mana-mana.
 
 
 
Apabila dianalisis lebih lanjut sebenarnya terjadi perbedaan pola pemahaman budaya Jawa antar generasi. Pola pemahaman generasi pendahulu adalah traditional textual dan pemahaman generasi penerusnya bercorak rational contextual. Pola yang pertama semata-mata hanya melihat bunyi teksnya, sedang yang kedua selain memperhatikan aspek internal teksnya juga menganalisis aspek eksternalnya dalam konteks sosio-historis dan sosio-kulturalnya. Pola pemahaman tradisional-tekstual melihat budaya Jawa sebagai produk, yakni suatu hasil yang diangap benar dan harus dipegang secara ketat, sedang pemahaman rasional-kontekstual melihat budaya Jawa sebagai proses yang memerlukan penggalian dan analisis yang lebih rasional. Contoh sederhana di dalam ilmu Candrasangkala dan Suryasangkala dkenal kaa-kata yang mengandung nulai bilangan agka (watak wilangan). Misalnya api berwatak tiga, air berwatak empat, kuda berwatak tujuh, gajah berwatak delapan dan sebagainya. Di dalam teks Serat Centhini alasan mengapa gajah berwatak delapan karena binatang tersebut memerlukan delapan perlengkapan yaitu: perhiasan kepala, kalung, pelana (slebrak), amben (tali perut), lembing, rantai, wantilan (tali penambat) dan srati (pawang gajah).
 
 
 
Keterangan watak bilangan gajah dengan delapan  perlengkapan gajah itu terlihat terlalu mengada-ada dan dibuat-buat. Dalam ikonografi (ilmu arca) memang dikenal delapan ekor gajah yang bernama: Airavata, Pandurika, Vamana, Kumuda, ANjana, Puspadhenta, Sarvabhauma dan Supratika. Sehingga alasan ikonografi ini lebih beralasan dibandingkan alasan dalam serat Centhini. Demikian pula dengan watak bilangan untuk Kuda, yang dalam serat Centhini dinyatakan bahwa kuda memiliki tujuh cara berlari. Padahal penyebabnya adalah karena Dewa Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Dalam serat Pustakaraja, kereta Surya inilah yang digunakan untuk menggilas Prabu Watugunung setelah dikalahkan Dewa Wisnu.
 
 
 
Contoh lain yang sering dijumpai pada upacara pernikahan mengapa kedua orang tua mempelai memakai sindur (sabuk pinggang dari kain berwarna merah-putih). Untuk menjelaskan hal ini perlu alasan filosofis yang rasional tanpa harus kehilangan makna simboliknya. Warna putih dalam kain sindur melambangkan benih laki-laki, dan warna merah melambangkan benih perempuan. Makna lebih dalamnya adalah agar kedua mempelai segera dikaruniai anak oleh Tuhan Yang Maha Esa. Makna simbolik ini diwujudkan dengan keberadaan pohon mangga cempora yang berbunga putih dan pohon soka yang berbunga merah yang dahulu ditanam di Sitihinggil Selata Kraton Yogyakarta sesai dengan makna simbolik tata ruang kraton berikut vegetasinya. Demikian pula dengan hanya pohon pakel dan pohon kweni yang ditanam di alun-alun Selatan dan pohon asem dan tanjung di sepanjang jalan dari Panggung Krapyak Sampai Plengkung Gadhing. Pohon asem bermakna sengsem pohon gayam bermaklna ayom sepanjang jalan Margatama, Malioboro, dan Margamulya. Atau dari Tugu/Pal putih Sampai Gapura Gladhag.
 
 
 
Disamping terjadinya perbedaan pola pemahaman budaya Jawa antara tradisional tekstual dan rasional kontekstual perlu diakui pula bahwa masuknya budaya asing bersama dengan budaya materialistik dan fasilitas lain mudah diterima oleh masyarakat yang lambat laun mengurangi kepekaan terhadap budaya Jawa. Akhirnya masyarakat kita hanya menjadi pemakai (konsumen). Untuk mampu memproduksi barang kebutuhan sendiri dengan kualitas standard maka harus bersaing di dalam budaya global yang harus melewati proses translation, imitation, dan creation yang memakan waktu panjang. Liberalisasi ekonomi ASEAN (AFTA) yang dimulai tahun 2003 juga membawa konsekuensi liberalisasi budaya. Liberalisasi bernafaskan free competition yang sebenarnya tidak berbeda dengan survival of the fittest, yang artinya kalau tidak kuat mesti kalah dalam persaingan. Padahal keunggulan budaya yang semestinya ada, kalah dengan desakan budaya materialistic yang membajir.
 
 
 
Suatu keprihatinan yang mendalam apabila kondisi budaya nasional termasuk budaya lokal terdesak oleh kepentingan ekonomi nasional yang mengglobal. Budaya nasional kita akan menjadi korban pemuasan konsumsi internasional. Padahal, untuk menghadapi era global diperlukan kesiapan dari dalam yang menyangkut maksimalisasi sumber daya manusia yang handal. Namun usaha untuk mempersiapkan SDM yang handal dan memadai ini diperlukan waktu yang tidak singkat. Sudah selakyaknya pemerintah secara preventif melindungi budaya Jawa sebagai budaya lokal maupun unsur budaya nasional dari gerusan erosi karena derasnya pengaruh eksternal.
 
 
 
D. SWOT Analisis Eksistensi Budaya Jawa
 
Untuk memantapkan eksistensi budaya Jawa perlu dianalisis dengan SWOT qualitative analysis dengan memeprhatikan Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness) sebagai faktor dari dalam (internal factors) serta Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threats) sebagai faktor dari luar (external factors).
 
 
 
1.      Kekuatan (Strength) Majemuknya ragam budaya Jawa merupakan sumber potensi tersendiri Buaya Jawa mampu mengakulturasikan budaya-budaya asing yang masuk sejak datangnya pengaruh Hindu, Buddha, Islam dan Barat Budaya Jawa sangat menekankan kerukunan, hormat dan toleran serta mementingkan keselarasan sosial
 
2.      Kelemahan (Weakness) Budaya Jawa memberikan tempat yang sangat tinggi pada tradisi yang menekankan herarki sosial yang sangat kuat sehingga tidak mudah menjalankan perubahan-perubahan dn dianggap menjadi salah sau penghambat demokratisasi dan egalitarianisme Budaya Jawa tekanannya pada kesejahteraan non material sehingga tidak mampu bersaing dengan kebudayaan mondial yang sangat menekankan kesejahteraan material Untuk memahami pesan moral yang diberikanmelalui symbol-simbol dan bahasa lambing yang diperlukan penghayatan yang dalam.
 
3.      Peluang (Opportunity) Budaya Jawa masih ada pendukungnya Kemajuan teknologi berdampak positip terhadap proses reinventarisasi, reinterpretasi, revitalisasi dan reaktualisasi budaya Jawa. Dukungan pemerintah terhadap budaya Jawa sebagai budaya lokal masihbesar.
 
4.      Ancaman (Threats) Pengaruh revolusi 4T aan membuka koridor budaya Jawa bagi masuknya berbagai bentuk dan nilai budaya asing Liberalisasi ekonomi pada tahun 2003 (AFTA) akan membawa konsekuensi terhadap liberalisasi budaya termasuk budaya Jawa. Media ceta dan elektronika mutahir menyuguhkan iklan-iklan agar terbentuk pendukung budaya konsumtif, padahal apa yang disuguhkan sebenarnya berbeda dengan budayanya (level of culture).
 
 
 
Untuk analisis kuantitatif selanjutnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu S dan O serta W dan T: apabila S-O > W-T : Goo! (budaya Jawa masih eksis) apabila S-O = W-T: Stay (buday Jawa stagnan) apabila S-O < W-T: out! (budaya Jawa dalam keadan kritis)
 
 -----
 
 
 
 
Ki Denggleng Pagelaran
=============================================
http://www.sekarjagad.net
http://groups.yahoo.com/group/wfbc
email: sekarjagad-owner@yahoogroups.com;

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.